Jumat, 21 April 2017


 Sumber: http://trimudilah.blogspot.co.id

Di sekitar abad pertengahan Masehi, kajian tentang materi mulai menemui titik terang, pasalnya seorang ilmuwan Arab yang bernama Jabir Ibnu Hayan (700 - 778 M) berhasil merumuskan "Alkimia" (Alkimia mempunyai arti perubahan materi). Alkimia inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya ilmu kimia, sehingga Jabir Ibnu Hayan dinobatkan sebagai "Bapak Kimia Klasik".

Peralihan dari Alkimia ke kimia sebagai ilmu pengetahuan alam modern terjadi pada abad XVI - XVII setelah para ilmuwan Eropa mengembangkan teknik-teknik penelitian di laboratorium dan mempublikasikannya. Setelah era peralihan itu, metode eksperimen menjadi landasan bagi perkembangan ilmu kimia. Serangkaian penemuan ilmiah berhubungan dengan pembakaran dianggap sebagai titik awal lahirnya kimia modern, sebab temuan-temuan dilandasi dengan prinsip dan teori yang dikembangkan oleh pakar Alkimia dan dikaji melalui kajian eksperimen menggunakan metode ilmiah. Beberapa pakar kimia yang dipandang mengawali perkembangan kimia modern di antaranya: Joseph Priestley (1733 - 1804), Antoine Lavoisier (1743 - 1794), dan Johan Dalton (1766 - 1844). 

Percobaan dengan pembakaran materi dikaji secara ilmiah pertama kali oleh Priestley. Dari hasil pengukuran diketahui bahwa jika materi dibakar akan kehilangan sesuatu yang dinamakan zat berflogiston. Hal ini ditunjukkan oleh perbedaan massa sebelum dan sesudah pembakaran. Namun teori flogiston dari Priestley disanggah oleh Lavoisier. Menurut Lavoisier, selama pembakaran tidak terjadi pengurangan maupun penambahan massa, asalkan wajan untuk pembakaran tertutup (tidak terjadi pertukaran materi dari dalam wajan dengan materi dari lingkungannya). Kelemahan percobaan Priestley, pembakaran dilakukan dalam wajan yang terbuka, yang memungkinkan terjadinya pertukaran materi dengan lingkungan sekitarnya. 

Pada kasus percobaan Priestley, Lavoisier juga menemukan adanya pengurangan massa oksida raksa setelah pemanasan. Menurut Lavoisier ketika dipanaskan, oksida raksa menghasilkan gas oksigen sehingga massanya akan berkurang. Lavoisier juga membuktikan kebalikannya. Jika sebuah logam dipanaskan di udara, massanya akan bertambah sesuai dengan jumlah oksigen yang diambil dari udara. Kesimpulan Lavoisier ini dikenal dengan nama Hukum Kekekalan Massa, yan berbunyi: massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama.

Sejak Lavoisier menemukan hukum kekekalan massa tersebut, maka gugurlah teori flogiston yang telah dipercaya oleh para ilmuwan selama ratusan tahun, dan pada perkembangan selanjutnya ilmu kimia mengalami perkembangan yang sangat pesat, dan akhirnya menjelma menjadi sebuah ilmu pengetahuan alam.

Tentang Hukum Kekekalan Massa yang akhirnya mengantarkan Antoine Lavoisier sebagai Bapak Kimia Modern, ternyata bukanlah ide baru bagi para ilmuwan Islam, kenapa? Karena versi awal tentang gagasan hukum kekekalan massa telah dicetuskan 5 abad lebih dahulu melalui Nasiruddin at Tusi, dengan mengatakan: ''Zat dalam tubuh tak bisa sepenuhnya menghilang. Zat itu hanya merubah bentuk, kondisi, komposisi, warna, dan bentuk lainnya yang berbeda''.   

Nasiruddin at-Tusi adalah salah seorang ilmuwan yang mendapatkan julukan sebagai ilmuwan serba bisa, karena keahliannya pada berbagai disiplin ilmu, seperti: astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama Islam. Ia lahir pada 18 Februari 1201 M di Kota Tus yang terletak di dekat Meshed, sebelah timur laut Iran. Sebagai seorang ilmuwan yang amat kondang di zamannya, Nasiruddin memiliki banyak nama. Antara lain Muhaqqiq at-Tusi, Khuwaja Tusi, dan Khuwaja Nasir.

Kamis, 20 April 2017

Jumat, 14 April 2017

 Sumber : www.visimuslim.net

Anatomi Sistem Sosial dan Ketahanan Generasi Kita

Sebelumnya telah diulas tentang Entropi Sosial dalam Etika Lisan dan Perspektif Generasi ke Generasi (baca http://www.sunarwan-asuhadi.tech/2017/04/dinamika-entropi-etika-lisan-generasi.html dan http://www.sunarwan-asuhadi.tech/2017/04/dinamika-entropi-etika-lisan-generasi_12.html). Topik kali ini melanjutkan ulasan sebelumnya dengan mengkhususkan menyoal tentang Anatomi Sistem Sosial dan Ketahanan Generasi Kita.

Teori Generasi menunjukkan bahwa situasi yang membentuk keperibadian generasi muda dipengaruhi oleh lingkungan yang eksis pada masanya. Oleh karena itu, untuk mengetahui bagaimana pola terpengaruhnya generasi muda, adalah penting untuk memastikan subyek apa yang merupakan sumber utama yang memengaruhi tatanan sistem kita saat ini. 

Jika mengamati pola-pola interaksi sosial yang memengaruhi terbentuknya sejumlah keperibadian generasi ke generasi, maka tak bisa dilepaskan oleh perilaku dunia internasional. Atau bisa dikatakan bahwa gen generasi ke generasi dibentuk pula oleh watak situasi internasional. 

Pertanyaannya: Watak internasional yang mana yang memengaruhi pola keperibadian generasi ke generasi tersebut? 

Berbicara tentang kondisi internasional, sesungguhnya ditentukan pula oleh pelaku-pelaku kebijakan internasional. Dan dalam wujudnya, masing-masing negara dalam kancah internasional tersebut memiliki posisi-posisi tertentu sebagai akibat dari persaingan internasional itu sendiri. 

Interaksi internasional tersebut bukan hanya dalam bentuk kompetisi tapi juga rivalry, oleh karena itu bagi negara-negara yang memiliki motif kekuasaan yang kuat, maka akan menggunakan berbagai fasilitas yang dimilikinya untuk memenangkan persaingan, mulai dari kekuatan politik, ekonomi, militer, teknologi, pendidikan, maupun sosial budaya dan semacamnya.

Produk persaingan internasional tersebut melahirkan sejumlah negara yang memiliki posisi sebagai negara yang paling berpengaruh, negara satelit, hingga negara yang terpengaruh (pengikut). Dan jangan lupa, negara-negara yang memiliki ambisi kekuasaan tersebut adalah negara-negara ideologis, maka, tidak mengherankan jikalau dulu (Uni Sovyet) dan sekarang (Amerika Serikat) berupaya keras untuk meletakkan negara-negara lainnya di bawah kekuasaannya.

Motif negara-negara ideologis adalah mengendalikan atau menguasai negara-negara di dunia agar dapat melayani kebutuhan dan keinginannya. Dalam upayanya tersebut, mereka akan mengkondisikan negara-negara pengikutnya mengadopsi nilai-nilai yang ada di negaranya agar diterapkan di negara-negara pengikut.

Negara-negara ideologis tersebut bergerak atas nama tujuan dan nilai ideologi yang diembannya, maka hingga saat ini Amerika Serikat sebagai polisi dunia berupaya untuk memastikan negara-negara pengikutnya berperilaku sebagaimana kemauan ideologi Kapitalisme-Sekulerisme, karena ideologi itulah yang diembannya. 

Dalam konteks lokal Wakatobi, bagaimana?

Kabupaten Wakatobi tentu merupakan wilayah lokalitas namun dalam kondisi kekiniannya tak bisa dilepaskan dengan situasi internasional. Adalah benar bahwa sebelum kita menyoal kondisi lokalitas seharusnya masih perlu memahami konteks regional dan nasional, namun dalam situasi globalisasi seperti ini konteks-konteks nasional dalam ranah informasi dipastikan kesulitan melakukan filterisasi langsung dari dunia internasional, dan tentu berbagai informasi (termasuk budaya tentunya) akan menetes langsung ke konteks-konteks lokal.

Informasi yang dimaksudkan di sini adalah terkait dengan sejumlah tatanan yang "terenskripsi" melalui sejumlah media masa maupun media sosial dari pusat-pusatnya menuju obyek-obyek komunitas di berbagai tempat. Situasi inilah yang memengaruhi kondisi generasi muda kita.

Bagaimana mungkin situasi internasional memengaruhi peristiwa erosi etika lisan di Wakatobi (misalnya)? 

Sebetulnya bukan hanya genre bahasa lokal yang mengalami reduksi, misalnya dengan banyaknya kosa kata asing yang mengisi memori kosa kata lokal, tapi yang paling berpengaruh adalah substansi keperibadian yang mengalami porak-poranda, atau bisa dikatakan bahwa standar-standar kepatutan dalam budaya komunikasi mengalami perubahan yang sangat signifikan.

Pertanyaan selanjutnya: begitu rapuhkah sistem kita, sehingga masyarakat kita begitu mudahnya mengalami dekadensi moral? 

Sebetulnya, kompleksitas masalahnya bukan karena faktor eksternal semata-mata (situasi internasional), akan tetapi secara internal, sistem kita kurang kompatible untuk melahirkan trend generasi jawara. Apa sebabnya? Fungsi-fungsi sistem kita mengalami infeksi. Pada level nasional ---infeksi pada sistem kita--- terlihat ketika proteksi sosial tidak serius dilakukan, dengan kesan membiarkan paham-paham sekulerisme, liberalisme, sinkretisme, serta berbagai isme berbahaya lainnya bekerja menggarap entitas sosial di negara ini.

Situasi sistem nasional yang rapuh tersebut juga menurun dan berkembang biak dalam tatanan lokal yang hampir mirip. Sehingga di sektor-sektor yang kita harapkan akan memperbaiki berbagai penyimpangan sosialpun pada akhirnya tidak bisa diharapkan, misalnya sekolah-sekolah maupun kampus-kampus. Bahkan sekolah-sekolah maupun kampus-kampus bekerja sebagai ajang transfer of knowledge an-sich, dan bukan sebagai protection of character. 

Dan yang paling disayangkan adalah ketika institusi pertahanan yang terakhir dari sumber daya manusia kita ---yakni, rumah tangga--- menjadi bulan-bulanan media massa/media sosial. Bisa jadi anak-anak kita telah terjaga dari interaksi lingkungan sosial dengan begitu baik, tapi di dalam rumah, mereka mengalami penetrasi informasi negatif yang begitu kuat melalui media televisi, internet, dan fasilitas media massa/sosial lainnya tanpa filter sama sekali.

Jadilah rumah tangga tak lagi memerankan basis pertahanan terakhir dalam mewujudkan fungsi pencegahan dan pemulihan bagi keperibadian generasi. Pada akhirnya, anak-anak kehilangan fungsi keteladanan, dari strata sistem yang paling rendah hingga di level puncak.

Bagaimana me-recovery kondisi krisis sosial seperti ini?

Karena pola krisis sosial ini bekerja secara sistemik di bawah kendali ideologi yang rusak, maka tidak ada jalan selain perbaikannya harus sistemik dan ideologis pula. Pilihannya hanya ada satu: kalau kapitalisme-sekulerisme telah diyakini sebagai sistem dan ideologi yang rusak, maka tentu bukan sistem dan ideologi sosialisme-komunisme yang akan digunakan, karena juga telah terbukti rusak, maka pilihannya adalah sistem dan ideologi Islam.

Allahu Musta'an...

Rabu, 12 April 2017

 Sumber: http://blog.ruangguru.com

Perspektif Generasi ke Generasi

Menyoal situasi sosial generasi muda, maka topik yang paling banyak hari ini mengitari problema generasi muda kita adalah terkait dengan erosi kemapanan, yang dalam bahasan kali ini masih melanjutkan ulasan sebelumnya, yakni mengurai masalah etika lisan (verbal) generasi muda kita.

Sungguh tak bisa dilepaskan antara situasi semesta dan lingkungan suatu sistem dengan sistem itu sendiri, oleh karena itu, maka menjadi rasional-lah apa yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun tentang gagasan mode penjajah - terjajah.

Dengan demikian, permasalahan entropi etika lisan generasi muda bukanlah persoalan tunggal yang berdiri sendiri di suatu kantong lokal komunitas, bangsa, maupun negara tertentu. Tetapi, ia merupakan resultan dari dinamika interaksi yang panjang antara suatu negeri dengan negeri lainnya, seumpama model interaksi dalam sistem kesetimbangan suatu reaksi kimia, di mana konsentrasi yang tinggi suatu senyawa akan bergeser ke senyawa-senyawa dengan konsentrasi yang rendah. Demikian pula berlaku dalam sistem kesetimbangan sosial masyarakat kita.

Mengenai status suatu generasi, sesungguhnya telah mendapatkan kajian yang serius dari sejumlah pakar, misalnya teori generasi (theory of generations). Theory of generations or sociology of generations pertama diutarakan oleh seorang sosiologis asal Hungaria bernama Karl Mannheim dalam sebuah essai berjudul “The Problem of Generations” pada tahun 1923. Essai ini dianggap sebagai “the most systematic and fully developed” dan juga “the seminal theoretical treatment of generations as a sociological phenomenon”.

Teori Mannheim menjadi referensi bagi para peneliti selanjutnya, dengan mengganggap bahwa peristiwa sejarah besar pada saat itu (Perang Dunia I & II) sebagai patokan dalam pembagian generasi berikutnya, sehingga munculah istilah-istilah untuk generasi berikutnya sesuai perilaku dan peristiwa sejarah yang dialami. Di mana fase-fase sejarah tertentu dianggap telah mengambil bagian dalam menentukan warna keperibadian generasi muda. Itu artinya, situasi yang melingkupi dunia (internasional) telah menjadi 'bahan genetik' keperibadian generasi muda dunia.

Terlepas dari benar - tidaknya teori-teori generasi tersebut, tentu eksistensinya telah menjadi salah satu instrumen analisis bagi sejumlah pihak dalam memandang kecenderungan etika generasi ke generasi. Adalah William Strauss dan Neil Howe yang mencoba mendefinisikan generasi-generasi yang ada di Amerika dalam buku mereka “Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069” (1991). Teori mereka tentang generasi ini banyak diambil oleh berbagai penulis jurnal dan buku yang membahas masalah-masalah antar generasi, sehingga popular sejumlah istilah-istilah generasi. 

Pertama, Generasi “Matures (Pra Baby Boom)” (lahir sebelum 1946). Generasi “matures (Pra Baby Boom)” untuk orang yang lahir sebelum 1946, dimana mereka mengalami peristiwa sejarah penting dalam sejarah umat manusia  yaitu mengalami Perang Dunia I dan II.

Kedua, Baby Boomer (lahir tahun 1946 – 1964). Generasi yang lahir setelah Perang Dunia II ini memiliki banyak saudara, akibat dari banyaknya pasangan yang berani untuk mempunyai banyak keturunan. Generasi yang adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri. Dianggap sebagai orang lama yang mempunyai pengalaman hidup. Generasi “Baby Boomers” yaitu untuk orang yang lahir setelah PD II  atau pada kisaran tahun 1946-1964 dimana manusia pada era itu memiliki angka kelahiran yang terbanyak pada sejarah umat manusia sehingga disebut era “Baby boom”, dan orang-orang yang lahir pada generasi ini disebut “Baby Boomers”.

Pada era ini perilaku manusia sedang berjuang untuk mencapai pemulihan pasca PD II, negara jajahan banyak berusaha memerdekakan diri,  pembangunan sedang digalakan baik di negara yang baru merdeka maupun yang memulihkan diri pasca PD, berusaha memenuhi kebutuhan pokok warganya merupakan program prioritas kebanyakan negara.

Ketiga, Generasi X (lahir tahun 1965-1980). Tahun-tahun ketika generasi ini lahir merupakan awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, tv kabel, dan internet. Penyimpanan data nya pun menggunakan floopy disk atau disket. MTV dan video games sangat digemari masa ini. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Jane Deverson, sebagian dari generasi ini memiliki tingkah laku negatif seperti tidak hormat pada orang tua, mulai mengenal musik punk, dan mencoba menggunakan ganja.

Istilah “Generasi X” diciptakan oleh seorang fotografer Hungaria bernama Robert Capa di awal 1950-an. Dia menggunakan istilah ini sebagai judul untuk foto-esai tentang pria dan wanita muda yang tumbuh cepat setelah Perang Dunia Kedua. Proyek ini pertama kali muncul di “Picture Post” (Inggris) dan “Holiday” (AS) pada tahun 1953. Menggambarkan niatnya, Capa berkata “Kami bernama generasi yang tidak diketahui, Generasi X, dan bahkan dalam antusiasme pertama kami menyadari bahwa kami memiliki sesuatu yang jauh lebih besar dari bakat dan kita bisa mengatasinya”. Akan tetapi penggunaan istilah generasi X populer setelah nama itu digunakan menjadi sebuah judul novel ”Generation X: Tales for an Accelerated Culture” oleh novelis Douglas Coupland yang rilis di tahun 1991. Coupland menamainya “X” karena adanya ketidakpastian pada generasi mereka. Pada masa ini kelahiran bayi menurun drastis disebabkan munculnya era anti-anak di negara adidaya seperti Amerika Serikat.

Keempat, Generasi Y (lahir tahun 1981-1994). Dikenal dengan sebutan generasi millenial atau milenium. Ungkapan generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter. Mereka juga suka main game online.
 
Ungkapan Generasi Y itu mulai dipakai pada editorial koran besar di Amerika Serikat bulan Agustus tahun 1993. Pada saat itu editor koran tersebut sedang membahas para remaja yang pada saat itu baru berumur 12–13 tahun, namun memiliki perilaku yang berbeda dengan Generasi X. Kemudian perusahaan-perusahaan pada saat itu mulai mengelompokan anak-anak yang lahir setelah tahun 1980-an sebagai anak-anak Generasi Y. Pada tahun 2000, William Strauss dan Neil Howe menulis buku yang didekasikan kepada Generasi Y dengan diberi judul “Millennials Rising: The Next Great Generation”.

Di dalam buku tersebut mereka memakai 1982 dan 2001 sebagai masa di mana Generasi Y mulai dan berakhir. Mereka sangat percaya bahwa semua orang yang lulus SMA sampai tahun 2000 nanti akan sangat berbeda dengan mereka yang lulus SMA sebelum dan sesudah masa itu, karena orang-orang pada masa itu menerima banyak perhatian dari media dan perkembangan politik yang mereka terima. Bahkan William Strauss dan Neil Howe berpendapat bahwa generasi ini akan menjadi generasi yang peduli akan masalah-masalah kemasyarakatan.

Kelima, Generasi Z (lahir tahun 1995-2010). Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka. Generasi ini lahir dan dibesarkan di era serba digital dan teknologi canggih. Tentunya hal ini berpengaruh terhadap perkembangan perilaku dan kepribadian mereka. Kiblat mereka adalah internet, sehingga mempermudah mereka mendapatkan akses informasi terkini. Sisi positif dari karakteristik generasi Z adalah mereka fasih dengan teknologi digital. Bill Gates menyebut generasi ini sebagai Generasi I atau Generasi Informasi.

Hingga saat ini, apabila kita membaca berbagai literatur yang mendiskusikan tentang batasan pasti “Cut Off” setiap Generasi, tidak pernah ada suatu kesepakatan dari seluruh peneliti kapan setiap generasi ini dimulai dan berakhir. Bahkan kebanyakan menganggap Generation Y dan Generation Z merupakan generasi yang sama.

Keenam, Generasi Alpha (lahir tahun 2011-2025). Generasi yang lahir sesudah generasi Z, lahir dari generasi X akhir dan Y. Ciri utama anak Generasi Alpha adalah kedekatan mereka dengan teknologi. Anak Alpha, gadget sudah menjadi bagian dari hidup mereka sepenuhnya. Mereka tumbuh dengan iPad di tangan, tidak bisa hidup tanpa smartphone, dan mampu mengoperasikan gadget hanya dengan mengenali tombol-tombolnya. Perubahan teknologis yang masif ini membuat anak Alpha sebagai generasi paling transformatif, begitu menurut McCrindle.

Demikanlah peta generasi ke generasi. Masing-masing memiliki karakteristik yang khas sesuai lingkungan hidup yang memengaruhinya. Namun, ini hanyalah sebuah generaslisasi yang tak sepenuhnya bisa digunakan untuk mendefinisikan keseluruhan keperibadian generasi ke generasi.

Bagaimanapun kecenderungan lingkungan sosial berada pada area kontrol yang masih bisa dimanipulasi, sehingga tak ada alasan untuk menyikapi berbagai kategorisasi tersebut seakan-akan sebagai sebuah realitas yang harus diterima apa adanya.

Oleh karena itu problematika entropi sosial merupakan fakta sosial yang memerlukan penyelesaian melalui penanganan sistemik, karena memang penyebabnya berasal dari persoalan yang bersifat sistemik. Pertanyaannya: Bagaimana sesungguhnya anatomi sistem sosial kita yang telah menyebabkan berbagai letupan entropi sosial?

Berlanjut ke : Anatomi Sistem Sosial dan Ketahanan Generasi Kita (DINAMIKA ENTROPI ETIKA LISAN GENERASI MUDA WAKATOBI (3/habis)).   

Selasa, 11 April 2017


Sumber: https://feed.merdeka.com

Entropi Sosial dalam Etika Lisan

Tulisan ini mengambil bagian untuk menyoal situasi sosial Masyarakat Wakatobi, terkait pergeseran etika lisan dalam komunikasi (verbal) sosial antar sesama, khususnya dalam komunikasi lokal 'berbahasa daerah'. Agar saya bisa memiliki bukti yang cukup dalam mengemukakan tulisan ini, maka saya batasi 'sistem sosial' yang saya ulas terbatas di Masyarakat Wangi-Wangi saja.

Apa yang saya sebut sebagai dinamika adalah untuk memberi penanda bahwa konteks yang saya singgung pada hakekatnya bukan persoalan stratifikasi sosial atau diferensiasi sosial, tetapi lebih kepada dinamika sosial. Sedangkan terma entropi yang saya maksud bermakna bahwa fungsi dinamika tersebut menuju ke arah anti kemapanan. Walaupun dalam perkembangannya komunitas sosial di Wangi-Wangi berkecenderungan untuk memaklumi dinamika yang dimaksud.

Adapun segmentasi sosial yang menjadi obyek dalam tulisan ini adalah para kawula muda, ini memiliki makna bahwa dinamika entropi sosial tersebut diperankan atau terjadi pada segmen masyarakat yang nota bene adalah para ahli waris masa depan, para pelanjut masa depan, para calon pemimpin masa depan, dan pemegang harapan bangsa dan negara.

Lalu etika lisan apa yang mengalami dinamika entropi?

Memang dimaklumi, bahwa aktivitas pembangunan telah memengaruhi berbagai sektor dalam kehidupan masyarakat, tidak hanya politik, ekonomi dan ekologi, tetapi juga aspek sosial. Aspek sosial pun telah mengalami lompatan-lompatan yang hampir sulit diukur dan dikontrol, pertukaran-pertukaran informasi yang begitu cepat di era teknologi informasi telah merubah sejumlah pola sosial, tidak hanya budaya tapi juga menukik dalam pada 'mode kebahasaan'. Naifnya, bukan semata-mata banyaknya kosa kata asing yang diserap dalam kosa kata nasional dan lokal semata, yang kemudian menggeser memori stratifikasi bahasa lokal dan nasional menjadi terseragamkan konteksnya.

Dalam kosa kata lokal Masyarakat Wangi-Wangi kita mengenal stratifikasi, bagaimana pengetahuan lokal Masyarakat Wangi-Wangi memiliki menu-menu 'taksonomi bahasa' yang diperuntukkan berdasarkan konteks komunikasi. Bila seorang anak berkomunikasi dengan orang tua maka ada kosa kata yang sesuai dengan konteksnya, ada kosa kata yang memenuhi etika lisan sesuai konteksnya, begitu pula jika ia berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dan atau seumuran, maka ada kosa kata yang tepat untuk digunakan dalam konteksnya.

Salah satu kosa kata yang tentu disayangkan terucapkan dalam komunikasi verbal Masyarakat Wangi-Wangi saat ini sebagai akibat pergeseran budaya adalah ucapan watu u*i (kelamin wanita). Kata ini memang telah terwariskan secara turun temurun menjadi kosa kata di ruang publik, namun di masa kecil saya (tahun 1980 - 1990-an), hanya diucapkan oleh orang-orang tertentu dalam situasi yang terbatas, itupun sebagai expressive sentence, saat ia kaget ataupun marah. Bagi anak-anak yang ketahuan menggunakan kata itu, maka para orang tua langsung memberi peringatan berupa ancaman akan dimasukkan cabe ke dalam mulutnya atau berupa pemberian sanksi lainnya dengan harapan agar anak-anak menjadi jera dan tak mengulanginya lagi.

Tapi lihatlah generasi saat ini, bahkan dari usia anak-anak hingga orang tua telah dengan begitu entengnya mengucapkan kata watu *n* di berbagai kesempatan, dan tak lagi ditemukan para orang tua yang resah dengan suasana seperti itu. Mereka tak lagi resah dengan etika lisan anak-anak dan generasi mudanya yang begitu ringannya mengucapkan sesuatu yang tidak pada tempatnya dan seharusnya dilindungi kedudukan 'hak verbalnya'. 

Kata yang 'serapah' itu merupakan tempat di mana mereka terlahirkan (dalam Bahasa Wakatobi). Kata tersebut selayaknya tak perlu diumbar di bibir, tapi, saat ini telah mengawali dan mengakhiri hampir semua perkataan melebihi do'a-do'a dan dzikir. Mungkin ini menjadi salah satu potret bagaimana kualitas generasi muda kita lebih matang secara seksual daripada secara intelektual.

Demikianlah realitas generasi muda kita saat ini, telah mengalami erosi etika lisan yang melorot ke titik nadir peradaban. Tentu, bila tak ada langkah-langkah sistemik, maka ada trend eksponensial meningkat bentuk erosi sosialnya menjadi erosi moral dan perilaku yang makin menjadi-jadi.

Tentu, ini tak lepas dari dinamika lingkungan dan semesta sosial yang sistemik pula, Ibnu Khaldun mengatakan : mode negara terjajah akan selalu mengikuti mode negara penjajahnya. Pertanyaannya: adakah mode penjajah - terjajah saat ini dalam konteks bahasa komunikasi?

Berlanjut ke: Perspektif Generasi ke Generasi (DINAMIKA ENTROPI ETIKA LISAN GENERASI MUDA WAKATOBI (2)).

Rabu, 05 April 2017

 Sumber: http://islamberkomunikasi.blogspot.co.id
Gambar 1. Ilustrasi Perjalanan Ibnu Battutah

Mengambil Pelajaran Rihlah Ibnu Battutah

Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Bathuthah adalah seorang pengembara (traveler), petualang (adventure), dan pengamat (viewer), bahkan ia adalah seorang peneliti (researcher) yang membuat catatan harian tentang negeri-negeri yang ia kunjungi dalam pengembaraannya. Catatan perjalanan yang dikenal dengan buku "Rihlah Ibnu Bathuthah" ini ditulis setelah dirinya mengunjungi berbagai belahan dunia, kemudian mengamati kebudayaan, adat istiadat, dan perilaku masyarakat di negeri-negeri yang ia kunjungi, terutama wilayah yang dipimpin oleh kesultanan Islam.

Banyak kisah menarik yang diceritakan dalam buku catatan perjalanan Ibnu Battutah ini, terutama cerita-cerita tentang para sultan, para syaikh, sejarah sebuah negeri, falsafah kehidupan masyarakat setempat dan lain sebagainya yang ia tulis berdasarkan pengamatan (langsung) dari negeri-negeri yang ia kunjungi. Dari India sampai negeri Cina, dari Afrika sampai Nusantara, Ibnu Bathuthah menceritakan perjalanannya secara apik dan mengesankan. Ia misalnya, menceritakan kunjungannya bertemu dengan Sultan Jawa (Sultan Nusantara) dari Kerajaan Samudera Pasai, Sultan Malik Az-Zhahir. Ibnu Battutah sendiri menyebut hasil karyanya ini sebagai persembahan seorang pengamat tentang kota-kota asing dalam perjalanan yang menakjubkan, yang ia tuangkan dalam sebuah catatan perjalanan.

Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya, International Astronomy Union (IAU) Perancis mengabadikan Ibnu Battutah menjadi nama salah satu kawah bulan. Kawah Ibnu Battutah itu terletak di Barat daya kawah Lindenbergh dan Timur laut kawah bulan terkenal Goclenius. Di sekitar kawah Ibnu Battutah tersebar beberapa formasi kawah hantu. Kawah Ibnu Battutah berbentuk bundar dan simetris. Dasar bagian dalam kawah Ibnu Battutah terbilang luas. Diameter kawah itu mencapai 11 kilometer. Dasar kawah bagian dalamnya terbilang gelap, segelap luarnya. Kawah Ibnu Battutah awalnya bernama Goclenius A. Namun, IAU kemudian memberinya nama Ibnu Battutah.

Selain dijadikan nama kawah di bulan, Ibnu Batutah juga diabadikan dan dikenang masyarakat Dubai lewat sebuah mall atau pusat perbelanjaan bernama Ibnu Batutah Mall. Di sepanjang koridor mall itu dipajangkan hasil penelitian dan penemuan Ibnu Batutah.

Sementara di kampung halamannya sendiri, Tanger-Maroko Ibnu Battutah sangat terkenal. Di dekat Stadion Tanger terdapat bentuk Globe kecil yang menandai kediaman Ibnu Battutah yang kecil. Terdapat juga di Hotel Ibn Battouta di Jalan (Rue) Magellan, di bagian bawah perbukitan ada  burger Ibn Battouta dan Cafè Ibn Battouta. Ferry yang menghubungkan Spanyol dengan Maroko menyeberangi Selat Gibraltar juga bernama M.V. Ibn Battouta. Begitu juga bandara kota Tanger bernama Ibn Battouta. Meski petualangan dan pengembaraannya telah berlalu sembilan abad silam, namun kebesaran dan kehebatannya hingga kini tetap dikenang dunia.  

Pertanyaannya: apa yang bisa dipetik dari pengalaman seorang Ibnu Battutah, khususnya dalam 'dunia rihlah' yang ia geluti?
Pertama; Ibnu Battutah hidup dalam lingkungan ahlul ilmu, dan ia dibesarkan dari keluarga Qadhi, dan ia pun belajar mengenai ilmu peradilan, yang membentuk beliau memahami ilmu dan mampu mempraktekkan  pengetahuan praktis problem solver tersebut, yang membuatnya mudah diterima dan dibutuhkan oleh banyak orang. Tentu saja, ilmu dan amaliyah praktis ketika itu adalah syari'at Islam.

Kedua; Ibnu Battutah memiliki kepekaan ukhuwah yang tinggi, sehingga dalam waktu singkat dapat membangun jejaring persaudaraan yang tak tersekat dengan faktor-faktor genetik, geografis, bahkan politik. Beliau mampu membuka entry point persaudaraan ke sejumlah ras dan bangsa.

Ketiga; Ibnu Battutah adalah pembelajar dan pencinta ilmu. Dalam rihlah-nya, beliau tak lupa belajar kepada ulama-ulama setempat di negeri-negeri yang ia kunjungi.

Keempat; Beliau seorang yang amanah, sehingga mendapatkan sejumlah kepercayaan di berbagai kesempatan rihlah-nya.

Kelima; Beliau seorang yang tangguh, tidak hanya kondisi kesehatan fisiknya yang membawanya mampu berkelanan jauh selama ~ 30 tahun. Tetapi juga keberaniannya yang tak pantang surut, dengan berbagai halangan fisik yang ia hadapi di perjalanannya.

Keenam; Beliau tidak hanya seorang pengembara (traveler) dan petualang (adventure), tetapi juga seorang pengamat (viewer), bahkan ia adalah seorang peneliti (researcher) yang terampil dan terlatih, sehingga rihlah-nya bukan berorientasi pada aspek visual sebagaimana para pelancong jaman sekarang. Dari dediikasi-nya itulah beliau mengabadikan sejumlah kabar sejarah, sosiologi, politik, dan sebagainya.

Ketujuh; Beliau seorang yang memiliki kecakapan multi-bahasa yang mumpuni, terbukti dengan kemampuannya berkomunikasi dengan sejumlah bangsa yang memiliki bahasa yang beragam, walaupun pada masa itu, di sejumlah tempat yang dikunjungi menggunakan Bahasa Arab sebagai lingua franca (Bahasa Pergaulan).

Kedelapan; Ibnu Battutah juga seorang pekerja, bisa dibayangkan dalam perjalanan yang begitu panjang, beliau tak kehilangan bekal yang berarti. Selain beliau mengkhususkan waktunya untuk mencari nafkah di sejumlah negeri yang ia lalui, juga di sejumlah negeri Islam ketika itu, memberikan perhatian dan pelayanan kepada para musafir yang melalui negeri-negeri mereka.

Kesembilan; Yang tak kalah penting adalah lingkungan internasional yang berada dalam pengaruh kekuatan Islam ketika itu, khususnya pengaruh Kekhilafahan Turki Utsmaniyah, juga negeri-negeri Islam lainnya yang sudah membangun kekuatan-kekuatan otonom sendiri. Lingkungan internasional seperti inilah yang memudahkan perjalanan seorang Ibnu Battutah. 

Demikianlah uraian tentang pengalaman rihlah seorang legendaris wisata bernama Ibnu Battutah, semoga memberikan inspirasi dan keberkahan.


Daftar Bacaan
https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Batutah
http://www.biografiku.com/2011/11/biografi-ibnu-battuta-penjelajah-muslim.html
http://www.kautsar.co.id/mobile/read/book/147/rihlah-ibnu-bathuthah-memoar-perjalanan-keliling-dunia-di-abad-pertengahan/
https://www.kaskus.co.id/thread/52f49124128b468f1f8b4837/orang-pertama-yang-keliling-dunia/
http://www.nu.or.id/post/read/41371/ibnu-batutah-petualang-legendaris-asal-maroko

Selasa, 04 April 2017

Sumber: https://dewisaputri.wordpress.com 
 Gambar 1. Peta Perbandingan Perjalanan Marco Polo dan Ibnu Battutah

Antara Ibnu Batuttah, Marco Polo dan Vasco da Gama

Tulisan kali ini menyoal tentang  nama-nama legendaris di dunia petualangan, yang tidak hanya hebat di masanya tetapi tetap mendapatkan pengakuan hingga masa kini, siapakah mereka? Tak lain selain nama-nama seperti Marco Polo, Ibnu Battutah, dan Vasco da Gama.

Untuk profil Ibnu Battutah, kita telah singgung di pembahasan sebelumnya (baca: MENGUAK WISATA (RIHLAH) METODE IBNU BATTUTAH (1)). Kali ini secara khusus menguak bagaimana nama legendaris lainnya yang juga dielu-elukan di dunia petualangan, yakni Marco Polo dan Vasco da Gama.

Marco Polo (lahir 15 September 1254 – meninggal 8 Januari 1324 pada umur 69 tahun) adalah seorang pedagang dan penjelajah Italia yang pernah menyusuri jalan sutera. Ia pergi ke Tiongkok semasa berkuasanya Dinasti Mongol. Ia belajar tentang perdagangan selagi ayah dan pamannya, Niccolo dan Maffeo, melakukan perjalanan melalui Asia dan tampaknya bertemu Kubilai Khan. Pada 1269, mereka kembali ke Venesia dan bertemu Marco untuk pertama kalinya. Mereka bertiga memulai sebuah perjalanan epik ke Asia, dan kembali setelah 24 tahun, menemukan Venice berperang dengan Geno. Marco dipenjarakan, dan mengisahkan cerita kepada teman satu selnya. Ia dibebaskan tahun 1299, menjadi pedagang kaya, menikah dan punya tiga anak. Ia terkenal karena kisah-kisahnya sangat menarik dan aneh bagi bangsa Eropa. Pada masa itu, bangsa Barat tidak mengenal dunia Timur. Sebagian cendekiawan berpendapat bahwa Marco Polo memang pergi ke Tiongkok, tetapi tidak mengunjungi semua tempat yang digambarkan dalam bukunya (misalnya Xanadu).

Salah satu kisah Marco Polo yang menarik untuk bangsa Indonesia adalah cerita tentang unicorn atau kuda bertanduk satu yang menurutnya dijumpainya di pulau Sumatra. Tetapi, ilmu pengetahuan membuktikan bahwa yang ditemukan Marco Polo itu bukanlah unicorn melainkan badak Sumatra. Ia meninggal pada 1324, dan dimakamkan di San Lorenzo.

Sedangkan Vasco da Gama dilahirkan tahun 1460 dan wafat tahun 1524 dikenal sebagai penjelajah Portugis yang menemukan jalur jalan laut langsung dari Eropa ke India dengan berlayar mengelilingi Afrika. Orang-orang Portugis sudah lama mencari jalur ini sejak saat Pangeran Henry Sang Navigator (1394-1460). Tahun 1488 sebuah ekspedisi Portugis di bawah pimpinan Bartolomeus Dias telah sampai dan mengitari Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika dan kembali ke Portugis. Dengan keberhasilan ini, Raja Portugis mahfum bahwa usaha lama mencari jarak terpendek ke India kini hampir mendekati kenyataan. Tetapi, ada pelbagai penundaan, dan baru tahun 1497 sebuah ekspedisi ke India benar-benar dilaksanakan. Untuk memimpin ekspedisi itu raja menunjuk Vasco da Gama, seorang bangsawan dari kelas rendahan yang lahir sekitar tahun 1460 di kota Sines, Portugis.

Namun demikian, Ibnu Battutah, Sang petualang legendaris dari Negeri Matahari Terbenam ini, dianggap sebagai pelopor penjelajah abad 13 M yang belum tertandingi, sekalipun ada Marco Polo yang juga melakukan penjelajahan dunia. Perjalanan Marco Polo masih tidak sebanding dengan Ibnu Battutah terutama dalam kuantitas perjalanan. Karenanya, ia dijuluki dengan sebutan “Pengembara muslim Arab”.

Perjalanan panjang dan pengembaraannya mengelilingi dunia itu mampu melampaui sejumlah penjelajah Eropa yang diagung-agungkan Barat seperti Christopher Columbus, Vasco da Gama, dan Magelhaens yang mengembara setelah Ibnu Batutah. Sejarawan Barat, George Sarton, mencatat jarak perjalanan yang ditempuh Ibnu Batutah melebihi capaian Marco Polo. Tak heran, bila Sarton geleng-geleng kepala dan mengagumi ketangguhan seorang Ibnu Battutah yang mampu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan sepanjang 120.000 kilometer itu. Sebuah pencapaian yang tak ada duanya di masa itu.

Banyak orang beranggapan, mungkin termasuk juga kita, bahwa manusia pertama yang keliling dunia adalah Marco Polo, Vasco Da Gama, atau Colombus. Padahal tidak. Manusia pertama yang keliling dunia adalah  Ibnu Battutah. Pada usia ~ 23 tahun Ibnu Bathuthah meninggalkan negerinya. Ia lalu berkeliling ke negeri-negeri seperti Maroko, Mesir, Syam (sekarang Suriah), Hijaz (Ethiopia), Irak, Persia, Yaman, Bahrain, Turkistan, Maa Waraa nahr (Transoxania), sebagian wilayah India, Cina, Jawa (Nusantara), Tartar, dan Afrika Tengah. Dialah traveler yang juga ahli sejarah dan menguasai Bahasa Turki dan Persia. Cambridge University menyematkan gelar kepada Ibnu Battutah sebagai “Pemimpin Pelancong Muslim”.

Nama Ibnu Battutah telah dicatat dalam kepustakaan-kepustakaan sejarah dunia, khususnya sejak abad pertengahan sampai zaman modern. Namanya masyhur di mata ilmuwan Muslim dan Barat. Banyak buku atau karya ilmiah disusun bersumber dari memoar-nya. Dalam catatan sejarah Ibnu Battutah telah melakukan perjalanan selama ~ 27 tahun.

Memang Benar Marco Polo telah lebih awal melakukan perjalanan ke berbagai negeri, tetapi jangkauan yang dilakukan Ibnu Battutah jauh lebih besar dibanding apa yang telah dicapai Marco Polo. Hal itu bisa jadi karena luasnya penyebaran Islam telah hampir menjangkau seluruh dunia pada masa kekhalifahan dari masa ke masa.

Sedangkan Vasco Da Gama adalah traveler yang datang satu abad kemudian setelah perjalanan Ibnu Bathuthah. Tepatnya pada tahun 1469 – 24 Desember 1524 di Kochi, India, yang hanya menemukan jalur jalan laut langsung dari Eropa ke Malabar, India dengan melakukan penjelajahan laut mengelilingi Afrika. Apalagi Colombus, ia memulai debutnya jauh setelah Vasco Da Gama melakukannya.

Dengan demikian maka penjelajah dunia pertama adalah Ibnu Battutah. Sebab pada saat itu Islam telah menyebar ke seluruh dunia di mana jalur maritim dunia dikuasai oleh Umat Islam selama lebih dari 5 abad (Armada Laut Kekhilafahan Turki Utsmani adalah yang terkuat pada masa itu). Sementara Barat pada tahun tersebut masih berada dalam masa dark ages (masa kegelapan). Hal ini jika mengacu pada tahun dimulainya gerakan renaissance (kelahiran kembali) Eropa yang terjadi pada abad ke 17-19 Masehi.

Bersambung ke: Mengambil Pelajaran Rihlah Ibnu Battutah pada MENGUAK WISATA (RIHLAH) METODE IBNU BATTUTAH (5/habis)


Daftar Bacaan
https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Batutah
http://www.biografiku.com/2011/11/biografi-ibnu-battuta-penjelajah-muslim.html
http://www.kautsar.co.id/mobile/read/book/147/rihlah-ibnu-bathuthah-memoar-perjalanan-keliling-dunia-di-abad-pertengahan/
https://www.kaskus.co.id/thread/52f49124128b468f1f8b4837/orang-pertama-yang-keliling-dunia/
http://www.nu.or.id/post/read/41371/ibnu-batutah-petualang-legendaris-asal-maroko
https://id.wikipedia.org/wiki/Marco_Polo
http://www.biografiku.com/2009/01/biografi-vasco-da-gama_22.html

Total Tayangan Laman

Mengenai Saya



Sunarwan Asuhadi
Lahir 11 Maret 1980 di Desa Waha Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Menamatkan Sekolah Dasar Pada SD Inpres Desa Waha Tahun 1992, Menamatkan SMPN Waha Pada Tahun 1995, Menamatkan SMUN Wangi-Wangi Tahun 1998, Menamatkan S1 Pada Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan P. MIPA, FKIP Universitas Haluoleo Pada Tahun 2003, dan Menamatkan S2 Pada Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Pada Institut Pertanian Bogor Pada Tahun 2006.

Follow by Email

Pengikut

MILIKI HUNIAN DI SURGA KAVLING

 INFO KAVLING STRATEGIS (GOWA)
----TERBATAS---
Cicil tanpa bunga, tanpa denda, tanpa Sita (tanpa Riba).

Lokasi Tanah Kavling Strategis terletak di perbukitan bilaya, Pattallassang - Gowa yang memberikan pemandangan indah serta udara sejuk... Lokasi juga sangat mudah di Akses dari kota Makassar Krn jalan Lebar dan mulus...

Informasi Selengkapnya
di
Sunarwan Asuhadi
Narone Wakatobi Fanspage

Popular Posts

Blog Archive